Mengarahkan Anak Berdasarkan Kategori IQ

Dengan IQ anak yang normal atau rata-rata atas seharusnya tidak mengalami kesulitan belajar, namun pada kenyataannya prestasi belajarnya ada yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Hal ini akan berbeda dengan anak yang mempunyai IQ dibawah 99 (rata-rata Bawah) yang tidak bisa belajar, atau tidak mau belajar. Kondisi ini lebih tepat disebut keterbelakangan mental dan lebih tepat jika melanjutkan pendidikan ke Sekolah Luar Biasa Bagian C (Tuna grahita).iq anak yang normal

Anak dengan kategori rata –rata atas akan memperoleh skor antara 100 sampai 109. Dengan demikian, siswa yang mempunyai potensi dasar dibawah rata-rata atau mendekati dibawah rata-rata (100, 101, dan 102 ) merupakan siswa yang perlu diperhatikan dan pendampingan khusus sehingga siswa dapat meningkatkan potensinya. Sedangkan siswa yang mempunyai IQ tinggi atau mendekati tinggi (108 dan 109) merupakan siswa yang berpotensi menjadi siswa berprestasi apabila motivasi dan pengarahan dari pihak sekolah tepat dan disesuaikan dengan kondisi anak.

Bagi anak yang memiliki IQ rata-rata atas, tinggi dan tinggi sekali sebaiknya tidak sombong, berbangga hati, merasa sudah pintar, dan tidak perlu belajar. IQ tinggi seharusnya memacu mereka untuk belajar lebih giat lagi, kemudian melihat prestasi belajarnya apakah sudah sesuai dengan prestasi belajarnya disekolah. Jika hal tersebut belum tercapai maka hendaknya mengubah cara belajar, mencari penyebab atu mencari solusinya, apakah anak-anak hanya mau belajar ketika ada ujian, malas belajar, suka membolos,meremehkan perintah guru, tidak disiplin, atau kondisi fisik daan psikisnya tidak sehat (ada gangguan). Jika sudah sesuai dengan prestasi belajarnya, hendaknya prestasinya dipertahankan dan ditingkatkan lagi dengan banyak latihan soal-soal pelajaran yang lebih sulit, dan memperbanyak pengetahuan dengan membaca buku.

Ukuran pintar, bodoh, sukses, berhasil dalam pendidikan, kaya dan miskin, tidak hanya ditentukan oleh kondisi IQ-nya yang tinggi. Banyak factor lain yang juga berpengaruh terhadap pandai tidaknya seseorang, yakni kita sebagai orangtua harus memperhatikan kecerdasaan emosi anak, ecerdasan spiritual anak, kondisi eksternal dan internal anak, gizi makanan sehari-hari, kondisi kesehatan fisik dan psikis (psikologisnya). Uraiannya sebagai berikut :

  1. Kondisi Eksternal Siswa. Kondisi eksternal siswa berhubungan dengan factor lingkungan anak (sekolah, teman, guru, , pola asuh orangtua) dan fasilitas belajar misalnya alat-alat sekolah, buku dan sebagainya.
  1. Kondisi Internal Siswa. Kondisi internal siswa berhubungan dengan kondisi kesehatan (jasmani/rohani) anak, missal ada atau tidaknya gangguan jasmani,syaraf,alat indera, kepribadian, sikap dan sifat sehari-hari serta perilaku anak. Misalnya melihat anak dari sifatnya yang penurut atau pembangkang, tutur kata yang kasar atau halus, disiplin atau pembolos. Kedua kondisi ini sangat mempengaruhi motivasi belajar anak.
  1. Kondisi Kecerdasan Emosi. Kondisi kecerdasaan emosi yaitu bagaimana anak mengelola emosinya (pencemas, mudah menyesuaikan diri atau tidak) missal anak bisa bersabar dalam menghadapi masalah, tidak emosional, mampu berempati, bekerjasama dengan teman, dan menolong teman yang sedang kesusahan, serta patuh kepada orang tua dan guru.
  1. Kondisi Kecerdasan Spiritual. Kondisi kecerdasan spiritual meliputi bagaimana anak melaksanakan ajaran agamanya, apakah dipraktekkan dalam kehidupannya sehari –hari dalam perilaku dan sifat-sifat serta kebiasaannya. Misalnya sholat, puasa, menolong teman, memahami kesulitan orangtua.
  1. Kondisi Gizi Makanan Sehari-hari. Dapat dilihat dari konsumsi makanan sehari-hari anak, apakah sudah mecakup 4 sehat 5 sempurna. Misal berupa karbohidrat, sayu-sayuran, daging, protein, buah-buahan dan susu. Menghindari makanan yang banyak pengawet,pewarna,fastfood,rokok,alcohol, dan lain-lain.

Bagi anak-anak yang memiliki IQ rata-rata bawah sebaiknya tidak berkecil hati dan merasa bodoh karena masih ada kesempatan untuk maju dan berubah. Kondisi IQ demikian kemungkinan disebabkan oleh :

  • Kondisi anak tidak siap dalam mengikuti tes IQ (tidak sehat, cemas atau bingung dalam menghadapi tes )
  • Anak tidak jelas dalam menghadapi tes IQ, karena tes IQ berbeda dengan tes prestasi belajar. Bentuk tes IQ bermacam-macam disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan usia anak. Ada yang berbentuk symbol-simbol dan ada yang berupa pertanyaan verbal (pengetahuan umum) dan non verbal (balok-balok, menggambar dan lain-lain)

Kondisi penyebab lainnya disebabkan factor internal dan eksternal seperti yang tersebut diatas. Solusinya adalah rajin belajar, jika belum jelas segera bertanya pada guru atau teman, belajar kelompok, privat belajar / kursus tambahan. Selain itu periksa ke psikolog atau ke dokter spesialis anak bila keluhan sakit kepala, sakit mata, dan sulit konsentrasi. Hal lain yang dilakukan adalah mengatur kebiasaan hidup yang teratur (disiplin belajar, makan makanan yang bergizi dan teratur, istirahat, menjaga kesehatan serta bersosialisasi dengan lingkungan ).

Tag :

cara mendidik ank IQ rata2,cara mengatasi intelegensi anak rendah,iqu di bawah rata2,kelakuan anak iq 72,mensikapi iq murid yg berbeda,

Related Post

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 3 =